Arsip | Desember, 2012

zaman kebudayaan manusia modern

31 Des

SAFIRA SALSABILA

36412776

1ID01

ILMU BUDAYA DASAR

“ZAMAN KEBUDAYAAN MANUSIA MODERN”

 

Zaman modern 

Zaman modern biasanya merujuk pada tahun-tahun setelah 1500. Tahun tersebut ditandai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Timur, penemuan Amerika oleh Christopher Columbus, dimulainya Zeitgeist dan reformasi gereja oleh Martin Luther.

Masa modern ditandai dengan perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan, politik, dan teknologi. Dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, seni modern, politik, iptek, dan budaya tak hanya mendominasi Eropa Barat dan Amerika Utara, namun juga hampir setiap jengkal daerah di dunia. Termasuk berbagai macam pemikiran yang pro maupun yang kontra terhadap dunia Barat. Peperangan brutal dan masalah lain dari masa ini, banyak diakibatkan dari pertumbuhan yang cepat, dan hubungan antara hilangnya kekuatan norma agama dan etika tradisional. Hal ini menimbulkan banyak reaksi terhadap perkembangan modern. Optimisme dan kepercayaan dalam proses yang berjalan di tempat telah dikritik oleh pascamodernisme sementara dominasi Eropa Barat dan Amerika Utara atas benua lain telah dikritik oleh teori pascakolonial.

Contoh-contoh menurut unsur-unsur kebudayaan :

1.Bahasa, terdiri dari bahasa lisan, bahasa tertulis, dan naskah kuno.

2.Sistem Pengetahuan, meliputi teknologi dan kepandaian dalam hal tertentu, misalnya pada masyarakat petani ada pengetahuan masa tanam, alat pertanian yang sesuai lahan, pengetahuan yang menentukan proses pengolahan lahan.

3.Organisasi Sosial, yaitu cara-cara perilaku manusia yang terorganisir secara sosial meliputi sistem kekerabatan, sistem komunitas, sistem pelapisan sosial, dan sistem politik.

4.Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi, yaitu alat-alat produksi, senjata, peralatan distribusi dan transportasi, peralatan komunikasi, peralatan konsumsi, pakaian dan perlengkapannya, makanan dan minuman, peralatan perlindungan atau istirahat

5.Sistem Mata Pencaharian Hidup, yaitu dari nomaden menganut foodgathering, semi producing, food producing hingga industri. Misalnya perburuan, perladangan, perkebunan, pertanian, peternakan, perdagangan dan industri

6.Sistem Religi, yaitu adanya keyakinan dan gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, ruh-ruh halus, dan tempat terakhir manusia hidup, yakni surga dan neraka.

7.Kesenian, yaitu gagasan, dongeng, dan penciptaan lain berupa seni-seni mengukir.

 

 

 

 

 

 

Kebudayaan Modern

-       SEJARAH MUNCULNYA MODERNISME

 

Pertama, Eropa klasik. Pada masa ini Eropa adalah suatu kawasan yang didominasi oleh peradaban Yunani (abad ke-8 SM sampai abad ke-6 SM) dan Romawi Kuno (abad ke-10 SM sampai abad ke-5 M). Masyarakat Yunani kuno mewariskan ilmu filsafat yang menekankan pada rasionalitas, demokratisasi, dan logika berpikir bebas. Sementara peradaban Romawi kuno, telah meletakkan dasar-dasar kenegaraan dan peradaban modern bagi bangsa Eropa saat ini.

Kedua, Eropa pertengahan. Dimulai saat jatuhnya Romawi Barat yang kemudian dipersatukan kembali oleh Raja Charlemagne dari Franka pada abad ke-5 M sampai jatuhnya Konstatinopel di Romawi Timur di abad ke-14 M. Pada masa pertengahan ini, pengaruh agama Kristen sangat dominan dan menancapkan kekuasaan di semua sektor kehidupan, termasuk pemerintahan. Karenanya, masa ini disebut dengan masa kegelapan (the dark age) bagi bangsa Eropa. Agama menjadi corong kekuasaan dan membelenggu kreativitas akal pikir manusia. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat disemua ranah kehidupan, termasuk urusan politik.

Ketiga, Eropa modern atau zaman modern. Pada masa ini lahir sebuah gerakan yang sering disebut dengan dengan gerakan “renaisans”. Renaisans yaitu kembalinya budaya Yunani kuno dan Romawi kuno yang merupakan benih zaman modern. Gerakan renaisans dipelopori oleh para humanis . gerakan renaisans merupakan titik tolak kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Gerakan lain yang mempengaruhi zaman modern adalah gerakan “aufklarung” yang muncul di abad ke-18. Zaman ini disebut “pencerahan” karena tergantikannya “iman yang membeleggu” dengan keunggulan rasio yang diyakini mampu membawa manusia pada kebenaran dan kebahagiaan hidup.

 

-       KONSEP MANUSIA MODERN

 

Materialisme merupakan paham atau aliran yang menanggap bahwa duniaini tidak ada selalin materi nature (alam ). Ciri khas materialisme adalah bahwa yang terpenting dari manusia bukanlah pada akal atau ruh ,melainkan pada dimensi  usahanya.Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar- benar ada adalah materi . Materialisme memandang manusia tak lebih dari kumpulan materi , tubuh atau daging semata, serta menafikan keberadaan ruh atau jiwa sebagaimana dikenal dalam islam.

Rasionalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Pengertian rasionalisme adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama.

Empirisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia didapatkan dari sesuatu yang dapat dilihat, sesuatu yang nyata.

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya.

 

-       PENGARUH MODERNISME TERHADAP MANUSIA

 

Bicara modernisasi tak terlepas dari pembicaraan sekularisme, yakni segala upaya untuk membungkam dan mengenyampingkan peran dan nilai-nilai agama dari ruang publik, sehingga peran dan nilai-nilai itu hanya diserahkan kepada masing-masing individu, bahkan pada titik yang paling ekstrim menolak adanya Tuhan. Menurut Naquid Al-Attas, adalah pembebasan manusia dari agama dan kemudian metafisika atau pembebasan alam dari nada-nada keagamaan.

 

 

Proses akulturasi di Negara-negara berkembang tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul radikal, dihambat oleh aliran kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the things of humanity all humanity enjoys”. Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan menerima unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif.

Akan tetapi pada refleksi dan dalam usaha merumuskannya kerap kali timbul reaksi, karena kategori berpikir belum mendamaikan diri dengan suasana baru atau penataran asing. Taraf-taraf akulturasi dengan kebudayaan Barat pada permulaan masih dapat diperbedakan, kemudian menjadi overlapping satu kepada yang lain sampai pluralitas, taraf, tingkat dan aliran timbul yang serentak. Kebudayaan Barat mempengaruhi masyarakat Indonesia, lapis demi lapis, makin lama makin luas lagi dalam (Bakker; 1984).

Apakah kebudayaan Barat modern semua buruk dan akan mengerogoti Kebudayaan Nasional yang telah ada? Oleh karena itu, kita perlu merumuskan definisi yang jelas tentang Kebudayaan Barat Modern. Menurut para ahli kebudayaan modern dibedakan menjadi tiga macam yaitu:

A. Kebudayaan Teknologi Modern

Pertama kita harus membedakan antara Kebudayan Barat Modern dan Kebudayaan Teknologis Modern. Kebudayaan Teknologis Modern merupakan anak Kebudayaan Barat. Akan tetapi, meskipun Kebudayaan Teknologis Modern jelas sekali ikut menentukan wujud Kebudayaan Barat, anak itu sudah menjadi dewasa dan sekarang memperoleh semakin banyak masukan non-Barat, misalnya dari Jepang.

Kebudayaan Tekonologis Modern merupakan sesuatu yang kompleks. Penyataan-penyataan simplistik, begitu pula penilaian-penilaian hitam putih hanya akan menunjukkan kekurangcanggihan pikiran. Kebudayaan itu kelihatan bukan hanya dalam sains dan teknologi, melainkan dalam kedudukan dominan yang diambil oleh hasil-hasil sains dan teknologi dalam hidup masyarakat: media komunikasi, sarana mobilitas fisik dan angkutan, segala macam peralatan rumah tangga serta persenjataan modern. Hampir semua produk kebutuhan hidup sehari-hari sudah melibatkan teknologi modern dalam pembuatannya.

Kebudayaan Teknologis Modern itu kontradiktif. Dalam arti tertentu dia bebas nilai, netral. Bisa dipakai atau tidak. Pemakaiannya tidak mempunyai implikasi ideologis atau keagamaan. Seorang Sekularis dan Ateis, Kristen Liberal, Budhis, Islam Modernis atau Islam Fundamentalis, bahkan segala macam aliran New Age dan para normal dapat dan mau memakainya, tanpa mengkompromikan keyakinan atau kepercayaan mereka masing-masing. Kebudayaan Teknologis Modern secara mencolok bersifat instumental.

B.Kebudayaan Modern Tiruan

Dari kebudayaan Teknologis Modern perlu dibedakan sesuatu yang mau saya sebut sebagai Kebudayaan Modern Tiruan. Kebudayaan Modern Tiruan itu terwujud dalam lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah saja, misalnya kebudayaan lapangan terbang internasional, kebudayaan supermarket (mall), dan kebudayaan Kentucky Fried Chicken (KFC).

Di lapangan terbang internasional orang dikelilingi oleh hasil teknologi tinggi, ia bergerak dalam dunia buatan: tangga berjalan, duty free shop dengan tawaran hal-hal yang kelihatan mentereng dan modern, meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan, suasana non-real kabin pesawat terbang; semuanya artifisial, semuanya di seluruh dunia sama, tak ada hubungan batin.

Kebudayaan Modern Tiruan hidup dari ilusi, bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal dunia artifisial itu tidak menyumbangkan sesuatu apapun terhadap identitas kita. Identitas kita malahan semakin kosong karena kita semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera kita, kelakuan kita, pilihan pakaian, rasa kagum dan penilaian kita semakin dimanipulasi, semakin kita tidak memiliki diri sendiri. Itulah sebabnya kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan, blasteran.

Anak Kebudayaan Modern Tiruan ini adalah Konsumerisme: orang ketagihan membeli, bukan karena ia membutuhkan, atau ingin menikmati apa yang dibeli, melainkan demi membelinya sendiri. Kebudayaan Modern Blateran ini, bahkan membuat kita kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh. Konsumerisme berarti kita ingin memiliki sesuatu, akan tetapi kita semakin tidak mampu lagi menikmatinya. Orang makan di KFC bukan karena ayam di situ lebih enak rasanya, melainkan karena fast food dianggap gayanya manusia yang trendy, dan trendy adalah modern.

C.Kebudayaan-Kebudayaan Barat

Kita keliru apabila budaya blastern kita samakan dengan Kebudayaan Barat Modern. Kebudayaan Blastern itu memang produk Kebudayaan Barat, tetapi bukan hatinya, bukan pusatnya dan bukan kunci vitalitasnya. Ia mengancam Kebudayaan Barat, seperti ia mengancam identitas kebudayaan lain, akan tetapi ia belum mencaploknya. Italia, Perancis, spayol, Jerman, bahkan barangkali juga Amerika Serikat masih mempertahankan kebudayaan khas mereka masing-masing. Meskipun di mana-mana orang minum Coca Cola, kebudayaan itu belum menjadi Kebudayaan Coca Cola.

Orang yang sekadar tersenggol sedikit dengan kebudayaan Barat palsu itu, dengan demikian belum mesti menjadi orang modern. Ia juga belum akan mengerti bagaimana orang Barat menilai, apa cita-citanya tentang pergaulan, apa selera estetik dan cita rasanya, apakah keyakinan-keyakinan moral dan religiusnya, apakah paham tanggung jawabnya (Suseno; 1992).

 

kajian kebudayaan manusia pada zaman pertengahan

19 Des

SAFIRA SALSABILA

( 36412776 )

KELAS : 1ID01

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

 

KAJIAN KEBUDAYAAN MANUSIA PADA ZAMAN PERTENGAHAN

 

Abad Pertengahan adalah periode sejarah di Eropa sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat di bawah prakarsa raja Charlemagne pada abad 5 hingga munculnya monarkhi-monarkhi nasional, dimulainya penjelajahan samudra, kebangkitan humanisme, serta Reformasi Protestan dengan dimulainya renaisans pada tahun 1517Abad Pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di masa zaman klasik dipinggirkan dan dianggap lebih sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan.

Eropa dilanda Zaman Kelam (Dark Ages) sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Maksud “Zaman Kelam” ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelek dan kelembapan ilmu pengetahuan. Menurut Ensiklopedia Amerikana, tempoh zaman ini selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Rom dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi. “Gelap” juga bermaksud tiada prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Keadaan ini merupakan wujud tindakan dan cengkraman kuat pihak berkuasa agama; Gereja Kristen yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang layak untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains asa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka ditolak. siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera malah ada yang dibunuh.

Pikiran ini, terimplementasi melalui teori yang dikeluarkan oleh Thomas Aquinas (m 1274) seorang ahli falfasah yakni “negara wajib tunduk kepada kehendak gereja”. St Augustine (m 430) sebelumnya juga berpendirian demikian. Manakala Dante Alighieri (1265-1321) berpendapat kedua-dua kuasa itu hendaklah masing-masing berdiri sendiri, dan mestilah bekerjasama untuk mewujudkan kebajikan bagi manusia (Joseph H Lynch, 1992, 172-174).

Dalam paradigma abad pertengahan, dua wilayah agama dan dunia terpisah total satu dengan yang lain sehingga tidak ada peluang bagi ekspansi satu terhadap yang lain atau pembauran antar keduanya. Seorang manusia kalau tidak ‘melangit’ haruslah ‘membumi’, atau kalau tidak meyakini kekuasaan alam gaib terhadap segala urusan hidupnya, maka dia harus memutuskan hubungan secara total dengan Tuhan dan roh-roh kudus, dan jika dia menghargai jasmani dan urusan materinya maka dia bukan lagi seorang rohaniwan dan berarti telah memutuskan hubungan dengan Tuhan. Kata Augustine “siapapun yang mahir dalam kesenian, perang, dan filsafat adalah orang yang bejat dan sesat, karena dia berasal dari kota setan dimana kebahagiaannya tak lebih dari sekadar topeng yang menipu, dan keindahannya hanya merupakan wajah alam kubur”. Kota inilah yang tidak diterima oleh Tuhan dan fitrah manusia. Karena orang yang sombong dan angkuh adalah merupakan kepekatan hari dan orang yang memiliki pengetahuan tentang segala yang harus diketahui oleh orang-orang terpuji. Dan ketika melihat kota setan ini tenggelam ke dalam kesesatan dan kesombongannya, maka semua sudut kegelapannya akan terlihat.

Konsep diatas, dipertegas oleh Fritjof Capra (2004) yakni : “Para ilmuwan pada Abat Pertengahan, yang mencari-cari tujuan dasar yang mendasari berbagai fenomena, menganggap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Tuhan, roh manusia, dan etika, sebagai pertanyaan-pertanyaan yang memiliki signifikansi tinggi, jadi ilmu didasarkan atas penalaran keimanan”.

Dengan demikian, kerangka berpikir yang dominan pada abad pertengahan dan tekanan kuat para elit gereja yang menganggap dirinya pengawas tatanan yang menguasai dunia dan telah menginterogasi ideologi para ilmuan dan menyeret mereka ke pengadilan serta menganggap kegiatan ilmiah sebagai campurtangan setan, kemudian faktor-faktor lain yang berada di luar pembahasan ini telah menjadi latar belakang munculnya Renaisans yang telah melahirkan teriakan protes terhadap kondisi yang dominan pada abad pertengahan.
Abad Pertengahan berakhir pada abad ke-15 dan kemudian disusul dengan zaman Renaissance. Zaman Renaissance berlangsung pada akhir abad ke-15 dan 16. Kesenian, sastra musik berkembang dengan pesat. Ada suatu kegairahan baru, suatu pencerahan. Ilmu pengetahuan mulai dikembangkan oleh Leonardo da Vinci (1452-1519), Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1643), dll.

 

DASAR-DASAR KESATUAN KEBUDAYAAN ZAMAN PERTENGAHAN

Peradaban zaman pertengahan menduduki tempat tersendiri dalam sejarah. Dengan berakar pada peradaban-peradaban Yunani-Romawi,Byzantium, dan Arab, dasar-dasar atau fondasi Peradaban Zaman Pertengahan memang benar-benar diletakan oleh kreator-kreator peradaban. Anasir spiritual berasal dari kebenaran-kebenaran agama Kristen.

   Negara masyarakat di Eropa Barat lama mengalami banyak berbagai bencana  akibat runtuhnya Kekaisaran Romawi. Aktivitas ekonomi merosot, negara-negara kota lama terus-menerus lenyap satu demi satu. Kehidupan semakin terkonsentrasikan di pedesaan, dan bertumpu pada sector pertanian. Ekonomi uang semakin tergeser oleh ekonomi domestic atauekonomi pertanian. Karena aktivitas jual beli rendah, bahan-bahan makanan dan barang-barang manufaktur rendah pula nilainya. Masing-masing wilayah mengembangkan semua atau hampir semua yang dibutuhkan penduduknya. Begitulah gambaran selintas masyarakat di Spanyol, Gaul, Italia, dan kawasan Rhein.

Jamaah Gereja, dalam kehidupan pedesaan Zaman Pertengahan jemaah gereja muncul dan berkembang dengan mudah. Menjelang abad X hal ini diakui sebagai bagian tak terpisahkan dari tata sosial feodalisme. Para tuan tanah menyediakan sebagian tanahnya untuk gereja serta untuk kebutuhan hidup sehari-hari para pendeta setempat. Dimana-mana gereja dan pelataran gereja menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangunan-bangunan milik para tuan tanah. Kekuasaan dan pengaruh para tuan tanah  yang begitu besar itu selanjutnya membawa implikasi tersendiri dalam mekanisme birokrasi gereja. Karena begitu berpengaruhnya llalu seakan-akan memiliki hak untuk mengajukan seseorang kepada uskup agar diangkat sebagai pendeta yang ditempatkan di daerah mereka. Dengan demikian pendeta gerja local itu boleh dikatakan adalah “orang”-nya tuan tanah.

Organisasi keuskupan, lingkup kerja seorang uskup meliputi banyak kesatuan wilayah jemaah gereja, dan ini disebut diocese atau keuskupan. Suatu jajaran pembantu uskup dibentuk untuk mengawasi masing-masing unit jemaah. Hal ini memang membutuhkan biaya yang mahal, tetapi tidak menjadi masalah karena gereja menerima sumbangan atau tenaga pengolah tanah di masing-masing wilayah. Pemasukan dari tanah itulah yang kemudian untuk merawat gereja, serta membiayai organisasi yang dibentuk untuk mengawasi kehidupan keagamaan di wilayah keuskupannya. Ini berarti manajemen keuskupan sangat tergantung pada ekonomi domestic atau ekonomi agrarian.

Sisa-sisa kekafiran dan ketakhayulan, sebagaimana diketahui, gereja Kristen lahir di dalam masyrakat yang telah memiliki tradisi keagamaannya sendiri selama berabad-abad. Itu berarti ajaran-ajaran meresap ke dalam kesadaran mereka, dan termanifestasikan dalam perilaku sehari-hari mereka.  Itulah sebabnya semenjak semula agama Kristen berjuang keras menyebarkan ajaran-ajaran etika praktis serta sikap hidup tertentu terhadap dunia. Sebelum Maklumat Milan  (the Edict of Milan) diumumkan (313), umat Kristen merupakan kelompok minoritas yang senantiasa hidup di bawah kecemasan dan ketakutan. Namun sesudah maklumat itu diumumkan , Kristen menjadi agama istimewa, dan berbondong-bondonglah orang untuk memeluknya, karena itulah jalan terbaik untuk menyelamatkan atau malah meningkatkan status mereka di dalam masyarakat. Pada awal Zaman Pertengahan , setiap orang yang hidup di Kekaisaran Romawi adalah pemeluk agama Kristen, karena wajib mengikuti pembaptisan. Gereja menjadi bersifat Katholik, artinya universal atau ada di mana-mana. Pada Zaman Pertengahan , praktek-praktek ilmu sihir itu antara lain tampak pada cara-cara orang Jerman membuktikan kesalahan seseorang yang dituduh telah melakukan kejahatan. Tertuduh membuktikan diri tidak bersalah setelah mengalami serangkaian penyiksaan. Ada banyak orang-orang Kudus, yang sebagian besar memang tokoh historis. Namun, dalam banyak hal cerita-cerita itu bercampur dengan ketakhayulan. Salah satu contohnya adalah dipakainya sepatu bekas milik St.Cuthbert, yang semasa hidup menjadi uskup Lindisfarne, untuk melakukan penyembuhan penyakit secara gaib.

 

 

 

 

 

Konversi orang-orang Barbar Jerman, sepanjang Zaman Pertengahan terjadi banyak  konversi orang-orang barbar. Suku-suku Jerman yang terkenal penganut kuat kepercayaan lama mereka satu demi satu pindah ke agama Kristen. Banyak suku-suku jerman yang sudah menyatakan diri masuk Kristen abad IV seperti Visigoth, Ostrogoth, Vandal, Burgundia, dan Lombardia.
Konversi orang-orang Frank, sering berpindahnya seluruh warga warga suatu suku ke agama Kristen adalah karena mengikuti raja atau kepala suku tersebut. Satu contoh yang menarik adalah yang terjadi pada Clovis, Raja orang-orang Frank. Karena mengalami tekanan berat selama peperangan dengan Alamanni pada 496, ia takut akan mengalami kekalahan total. Isterinya, St. Clotilda, telah sering membujuknya untuk menjadi seorang Kristen. Ia piker ia akan meraih kemenangan jika menjadi seorang Kristen. Alemanni pun kalah dan Clotilda memohon St. Remi, Uskup di Reims, untuk membaptis Clovis.
Konversi orang-orang Anglo, Saxon, dan Jute, suku-suku Jerman yang berdiam di Britania selama abad V masih tetap kafir. Agama Katholik baru masuk ketika datang missi St. Augustinus dari Centerbury pada 597.
Konversi orang-orang Northumbria, kaum barbar sangat terkesan akan kepastian ajaran Kristen. Mereka dibikin resah tentang tujuan akhir manusia, dan doktrin tentang kebangkitan kembali. Hal ini dilukiskan dalam sebuah cerita dalam catata Bede tentang konversi Raja Edwin dari Northumbria pada 627. Coifi, kepala urusan agama sangat berhasrat akan adanya perubahan karena, menurutnya, ia tak merasakan suatu kekayaan rohaniah dengan menyembah dewa-dewi lama.
Konversi orang-orang Kelt, dibandingkan dengan orang-orang Northumbria, orang-orang Kelt yang berada di Britania, Skotlandia, Irlandia lebih dahulu masuk Kristen. Upaya pengkonversian pertama terhadap mereka di lakukan oleh St. Patrick (†461).  Ia lahir di Britania. Ketika berusia enam belas tahun, ia ditangkap dan dijual sebagai budak di Irlandia. Ia mampu meloloskan diri dari tuan-tuannya dan kemudian selama bertahun-tahun tinggal di biara di Gaul Selatan. Pada 431 ia kembali ke Irlandia dan mulai melakukan tugas-tugas missionarisnya. Selama tiga puluh tahun ia melakukan perjalanan mengelilingi Irlandia mewartakan Injil. Atas segala keberhasilan misinya itulah kemudian ia dianggap sebagai santo Irlandia.
Konversi orang-orang Slav, kristenisasi orang-orang Slav baru terjadi pada abad pertengahan  abad IX. Missionaries-missionaris awal antara lain adalah St. Cyril (†869) St. Methodius (†885), dua bersaudara dari Thessalonika, Yunani. Kedua missionaries itu memang sengaja diundang oleh penguasa Moravia untuk menyebarkan ajaran Kristen di kalangan orang-orang Slav. Dengan fasih mereka mewartakan Injil dalam bahasa Slav, yang adalah bahasa Yunani yang telah diadaptasikan ke dalam bahasa Slav asli.

Eropa telah menjadi wilayah Kristen, kecuali bebeaoa daerah suku terbelakang di sekitar Laut Baltik. Suku-suku seperti Finn dan Lithuania selama beberapa abad kemudian tetap bertahan dengan paganisme mereka. Proses konversi semua suku bangsa yang terbentang dari pulau-pulau di lepas pantai Skotlandia hingga daratan luas di Rusia adalah merupakan suatu bab tersendiri dalam sejarah. Gereja yang praktis telah merambah semua suku bangsa di Eropa menjadi lembaga yang sangat berperan dalam pembentukan corak kehidupan manusia. Melalui doktrin-doktrinnya tentang kehidupan dan segala permasalahannya, Gereja benar-benar menjadi lembaga sentral yang menentukan bentuk peradaban Eropa. Karya para missionaries, biarawan, dan pejabat gereja mendapat tempat yang penting dalam sejarah peradaban.

 
St. Benedictus dan Peraturannya, perbiaraan Benedictus memainkan peran penting dalam proses transformasi kaum barbar menjadi umat Kristen yang lebih beradab. St. Bene-dictus (480-557), lahir dekat Spoleto, Italia tengah, dalam usia tujuh belas tahun pergi meninggalkan orangtuanya. Ia memilih hidup seperti seorang pertapa, yang ia jalani di tengah rimba Subiacco. Petuah-petuah sucinya tersiar luas. Akhirnya, pada tahun 528, ia menarik diri dari pertapaannya di Subiacco untuk mendirikan biara di Monte Cassino, yang terletak  di tengah-tengah antara Roma dan Napoli.
St. Benedictus  menerapkan aturan tersendiri. Maksud diterapkannya aturan yang khusus ini hanyalah untuk mengorganisasikan suatu biara tempat para biarawan hidup dengan tata cara yang umum  berlaku, melakukan pekerjaan dan kebaktian bersama. Telah banyak pujian terhadap kontibusi Ordo St. Benedictus dalam bidang sosial, ekonomi, dan intelektual. Namun, kontibusinya dalam aspek-aspek keagamaan boleh dikatakan kurang mendapat perhatian. Memang benar bahwa para biarawan telah membabat hutan, mengeringkan rawa-rawa, menanam pohon-pohon dan mengembakan peternakan, serta meningkatkan kesuburan tanah dengan metode-metode pertanian yang cermat.

 
Kesusastraan pada Zaman Pertengahan, pada dasarnya umat Kristen tak memiliki pertautan apa pun dengan karya-karya klasik Yunani dan Romawi yang politieistik dan mengandung gambaran yang tak senonoh tentang kehidupan para dewa.  St. Augustinus mengkhawatirkan kemungkinan timbulnya pengaruh buruk dari karya-karya para penulis kafir itu. Kekhawatiran ini juga di rasakan oleh umat Kristen pada umumnya. Umat Kristen barangkali boleh menolak sastra kafir. Namun hal itu tak mungkin  mereka lakukan tanpa juga menolak retorika, filsafat dan ilmu pengetahuan yang pernah dihasilkan bahasa Yunani dan Romawi. Para pemimpin gereja akhirnya  juga mengambil alih retorika lama, dan pengetahuan klasik menjadi bagian penting dari fondasi peradaban Zaman Pertengahan.

Zaman Kegelapan  kata lain untuk menyebut Zaman Pertengahan. Ini periode zaman para santo, dengan segala kepercayaan naïf tentang keajaiban mereka. Bentuk khas kesusasteraan yang lazim pada periode ini adalahhagiograf , atau kisah-kisah para santo. Banyak dari kisah-kisah semacam ini sebagian baik sebagian fiksi belaka, sebagian panjang sebagian pendek yang telah disusun menjadi semcam antologi yang dikenal sebagai Acta Sanctorum, atau Kisah Para Santo.
Gregorius Agung, Paus dari 590 hingga 604, adalah pemimpin gereja yang paling bersemangat mendorong penulisan tentang kehidupan apra santo. Karyanya sendiri yang berjudul Dialogoues, yang ditulis untuk menyenangkan umat Kristen, penuh dengan berbagai ceritaq keajaiban untuk membenarkan ajaran Kristen. Gregorius memang seorang pengkhotbah dan sekaligus penulis besar. Empat puluh dari kumpulan khotbah-khobahnyaq, yakni Homillies, masih bertahan. Karya lain Gregorius, yakni Magna Moralia, merupakan komentar atau catatan terhadap Kitab Job. Karya ini menjadi fondasi teologi selama Zaman Pertengahan.
Tokoh  Zaman Pertengahan yang lain yang tidak boleh diabaikan adalah Boethius.  Ia lahir di Roma, dan berasal dari golongan aristocrat. Ia hidup di bawah Raja Theodorik(†526), yang mendirikan kerajaan Ostrogoth di Italia. Boethius menaruh minat besar terhadap pengetahuan klasik, baik Yunani maupun Romawi. Meskipun Boethius banyak menulis nbuku-buku tentang aritmatika dan music, ia sebenarnya lebih berminat pada karya-karya Plato dan Aristoteles, yang kemudian banyak ia terjemahkan. Terjemahannya atas karya-karya Aristoteles seperti Categories dan De Interpretations berperan penting dalam pengembangan kehidupan intelektual di Barat.
Selain Boethius, tokoh lainnya lagi yang perlu diperhatikan adalah Cassiodorus (†583). Ia asli orang Italia selatan. Seperti Boethius, ia sangat berpengaruh dalam penyelenggaraan pendidikan pada zaman pertengahan. Ia mencoba mendirikan sebuah sekolah teologi di Roma. Namun gagasan ini praktis sulit direalisasikan karena peperangan yang destruktif dan berkepanjangan antara Justinianus dan orang-orang Ostrogoth. Hal ini mendorongnya untuk untuk meninggalkan tanah leluhurnya, dan kemudian mendirikan biara di Vivarium. Motivasi utamanya adalah agar para biarawan benar-benar menjadi ahli kitab yang mampu menjelaskan teks-teks suci dalam Injil.

 
Ilmu Pengetahuan, selama Zaman kegelapan pengetahuan ilmiah relative tidak mendapat tempat. Hal ini merupakan  konsekuensi logis dari merosotnya penyelidikan ilmiah Yunani dan pupusnya institusi-institusi ilmiah Romawi. Orang tak lagi berminat melakukan observasi secara ilmiah saeperti yang dilaukan Aristoteles.

 
Ilmu Kedokteran, karena tidak tumbuhnya sikap kritis, ilmu kedokteran pada Zaman kegelapan praktis tidak mengalami kemajuan. Ketika Kekaisaran Romawi mengalami disintegrasi, pengetahuan kedokteran yang telah dikembangkan Hippocrates dan Galen terabaikan. Hanya kadang-kadang saja cara yang lebih masuk akal digunakan. Di Barat, pengetahuan kedokteran sangat tak berarti jika dibandingkan dengan pengetahuan orang-orang Persia dan Yahudi pada masa kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah, yang mengembangkan pengetahuan mereka langsung dari karya-karya Galen. Sampai dengan abad XII, Eropa Kristen tak menjamah harta pengetahuan klasik ini. Jelas kebudayaan Eroba barat pada periode ini teramat kecil dibandingkan dengan kebudayaan Byzantium dan khususnya dunia Arab.

 

 

 

 

 

kajian kebudayaan manusia pada zaman prasejarah

6 Des

NAMA : SAFIRA SALSABILA

NPM     : 36412776

KELAS : 1IDO1

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR

 

KAJIAN KEBUDAYAAN MANUSIA PADA ZAMAN PRA AKSARA

 

kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kebudayaan pada zaman pra sejarah dilihat dari tempat hidup mereka dibagi menjadi dua yaitu kebudayaan pedalaman dan kebudayaaan pesisir.

A. kebudayaan Pedalaman

  1. Masa Palaeolithikum

      1). Kapak Genggam

Bahan  : batu Inti, kerakal, batu andesit, gamping, kersikan

Bentuk      : alat serupa kapak tetapi tidak bertangkai, digunakan dengan di genggam di tangan..

Jenis          : Chopper ( alat penetak )

2). Kapak Perimbas

Bahan        : Batu Inti, kerakal, batu andesit, gamping, kersikan

Bentuk      : berbentuk massif digunakan dengan cara digenggam

Jenis          : chopper ( alat penetak )

-         Tipe Serut samping (tajamnya berada di sisi yang berlawanan dengan tempat pegangan yang diasah agak tegak)

-          Tipe Setrika (berbentuk runcing pada bagian ujungnya seperti setrika).

-      Tipe Kura-kura (Beralas, membuat dengan permukaan atas yang cembung dan meninggi)

3). Pahat genggam

Bahan        : Batu Inti, kerakal, batu andesit, gamping, kersikan

Bentuk      : agak persegi berukuran sedang dan kecil terjalnya yang berada di sisi yang berlawanan dengan tempat pegangan yang ditatah agak tegak.

Jenis          : Chopper ( Alat Penetak )

4). Proto Kapak Genggam

5). Alat serpih bilah ( Penggaruk, Serut, gurdi, penusuk pisau)

Bahan        : Gamping kersikan, batu luar endap, kalisedon berwarna kuning, kerakal. Serpihan dari batu Inti

Bentuk      : Berbentuk serpihan kecil sebagai perkakas berbentuk sederhana yaitu kecil dan sebagian berujung konveks, membulat.

Jenis          : Chopper

 

  1. Masa Mesolithikum

      1). Pebble (kapak Sumatra)-Sumatralith

Bahan        : Batu andesit, batu kali yang dipecah/dibelah

Bentuk      : Berbeda dengan chopper, sisi luar lebih halus tidak diapa-apakan, sisi dalam dikerjakan lebih lanjut ; kedua sisinya kelihatan bergelombang, panjang, bulat, meruncing.

Jenis          : Pebble Culture (kebudayaan Pebble);tradisi Bascon-Hoabinh

2). Hache Courte (kapak pendek)

Bahan        : Batu andesit

Bentuk      : bentuknya setengah lingkaran, dibuat dengan memukuli dan memecah batu. Belum diasah, tajamnya terdapat di sisi yang melengkung.

Jenis          : Pebble Culture.

3). Pipisan

Bahan        : Batu

Bentuk      : semacam lempeng untuk menggiling dan landasannya.

Jenis          : Pebble Culture.

4). Abris Sous Roche (gua yang dipakai sebagai tempat tinggal manusia purba).

Bentuk      : Menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk  memberikan perlindungan ketika panas dan hujan.

  1. Masa Neolithikum

1). Beliung/pacul

Bahan        : batu api dan Chalcedon

Bentuk      : kapak persegi yang berukuran besar, bentuknya agak melengkung sedikit, diberi tangkai yang diikatkan pada lengkung itu. Digunakan untuk

mengerjakan kayu.

Jenis          : Kapak persegi

2). Tarah

Bahan        : batu api dan Chalcedon

Bentuk      : Kapak persegi berukuran kecil, bentuknya agak melengkung sedikit, diberi tangkai yang diikatkan pada lengkung itu. Digunakan untuk mengerjakan kayu.

Jenis          : Kapak persegi

3). Kapak Bahu

Bahan        : Batu Indah dan chalcedon

Bentuk      : Relatif sama dengan kapak persegi yang lain, hanya dibagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher, sehingga menyerupai bentuk botol yang persegi.

Jenis          : kapak persegi

4). Walzenbeil

Bahan        : Batu chalcedon

Bentuk      : Kapak lonjong yang berukuran besar, penampang alangnya lonjong, bentuk bundar telur. Ujungnya agak lancip ditempatkan di tangkai dan ujung lainnya yang bulat diasah sehingga tajam.

Jenis          : Kapak lonjong

5). Kleinbeil

Bahan        : Batu chalcedon

Bentuk      : Kapak lonjong yang berukuran kecil, penampang alangnya lonjong, bentuk bundar telur. Ujungnya agak lancip ditempatkan di tangkai dan ujung lainnya yang bulat diasah sehingga tajam.

Jenis          : Kapak Lonjong

6). Gelang

Bahan        : Batu Indah, manik-manik, kulit kerang

Bentuk      : Bulat gepeng, kedua sisi dicekungkan dengan di pukul, cekungan bertemu menjadi sebuah lobang kemudian digosok dan diasah menjadi bentuk yang diinginkan

Jenis          : Perhiasan

7). Kalung

Bahan        : Batu-batu yang dicat, batu-batu akik.

Bentuk      : Menggurdi biji-biji kalung sehingga tercipta lobng yang sangat kecil.

Jenis          : Perhiasan.

8). Alat-alat Obsidian

Bahan        : Batu kecubung (obsidian)

Bentuk      :

Jenis          : Alat mikrolit ; Untuk berburu, bercocok tanam, dan pekerjaan sehari-hari.

9). Gerabah

Bahan        : Tanah liat

Bentuk      :

-     Periuk  : Bentuk badan kebulat-bulatan memiliki tepian yang melekuk,        dan melipat keluar, tidak berhias, memiliki alascekung.

-          Cawan : Bentuk beralas bulat dengan tepian langsung yang melengkung kedalam. Beralas rata dengan tepian langsung. Mirip pedupaan. Kaki dibuat terpisah dari badannya. Bekas smbungannya masih tampak.

-          Kereweng Polos dan berhias   : Bentuk hiasannya berupa pola garis pendek sejajar dan pola lingkaran, pola geometris. Berlapis merah dan dihiasi dengan menggunakan cara digores atau dengan menggunakan tatap meniru pola-pola hiasannya (garis lurus).

-          Periuk bermulut lebar  : bentuk Tepinya melengkung keluar dan beralas cembung.

Jenis          : Gerabah/alat-alat rumah tangga

10). Alat pemukul kulit kayu

Bahan        : Kayu

Bentuk      : Berbentuk persegi panjang terdiri dari gagang dan bagian pemukul. Bagian untuk memukul kulit kayu ini cekung dan sejajar ujung. Bagian pemukulnya meruncing keatas menyerupai tanduk.

Jenis          : -

11). Perhiasan

Bahan        : Batu dan kulit kerang

Bentuk      : Manik-manik, gelang

Jenis          : Perhiasan

  1. Tradisi Megalithik

       1). Menhir

Bahan        : Batu

Bentuk      : Batu panjang yang didirikan tegak diletakkan di suatu tempat untuk peringatan orang mati.

Jenis          : Tradisi Megalithik

2). Kubur berundak

Bahan        : Batu

Bentuk      : Kuburan yang dibangun di atas sebuah bangunan berundak-undak

Jenis          : Tradisi Megalithik

3). Kubur peti batu

Bahan        : Batu

Bentuk      : Kubur berupa sebuah peti yang dibentuk dari enam buah papan batu, terdiri dari dua sisi panjang, dua sisi lebar, sebuah lantai dan sebuah penutup peti

Jenis          : Tradisi Megalithik

4). Lesung Batu

Bahan        : Batu

Bentuk      : Sebongkah batu yang diberi lobang sebuah atau lebih

Jenis          : Tradisi Megalithik

5). Dolmen

Bahan        : Batu

Bentuk      : Tempat sesaji atau meja sesaji. Akan tetapi ada pula dolmen semu yaitu dolmen yang dibawahnya digunakan untuk menguburkan jenazah. Dolmen ini disebut pandhusa.

Jenis          : Tradis Megalithik

6). Sarkophagus

Bahan        : Batu

Bentuk      : Tempat mengubur jenasah berbentuk seperti lesung

-          Tipe A : berukuran kecil serta bertonjolkan di bidang depan dan bidang belakang wadah dan tertutup.

-          Tipe B : Berukuran sedang tanpa tonjolan

-          Tipe C : Berukuran besar, bertonjolkan di masing-masing bidang wadah tertutup.

Jenis          : Tradisi Megalithik

7). Kalamba

Bahan        : Batu

Bentuk      : Tempat mengubur jenasah berbentuk bulat lonjong. Tutup kalamba disebut tuatena

Jenis          : Tradisi Megalithik

8). Waruga

Bahan        : Batu

Bentuk      : Bentuk kubur berupa sebuah peti kubur batu kecil berbentuk kubus dan ditutup dengan batu lain berbentuk atap rumah. Ukuran paling tinggi tidak lebih dari dua meter. Istilah lain lainnya adalah tembikar.

9). Arca

 

  1. Kebudayaan Pengecoran Logam

1). Nekara Pejeng

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Besar, tinggi 1.98. Bidang pukul bergaris tengah 1.60 m menjorong 25 cm. Keluar dari bagian bahu yang melurut ke bawah dan melengkung kedalam di bagian pinggang yang berbentuk silinders. Bagian kaki yang terbentuk genta yang melebar di bagian bawah.

Jenis          : Benda-benda perunggu

2). Nekara Tanurejo

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Bidang pukulnya berhias pola bintang bersudut 12 ditengah. Sekeliling bintang terbagi menjadi 4 ruang.

Jenis          : Benda-benda perunggu

3).Nekara Peguyangan

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Bidang pukulnya berhias pola bintang bersudut 8 ditengah dan 4 ruang yang mengelilingi bintang dihias.

Jenis          : Benda-benda perunggu

4). Nekara Bebitra

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Bidang pukulnya dihias pola bintang bersudut 8 ditengah.

Jenis          : Benda-benda perunggu

5). Nekara Tipe Heger I

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Mempunyai bidang pukul dengan garis tengah yang lebih besar daripada ukuran tinggi keseluruhan nekara. Bahu berbentuk cembung, bagian tengah berbentuk silindrik, kaki melebar berbentuk seperti kerucut terpancung dengan bagian bawah yang terbuka.

Jenis          : Benda-benda perunggu

6). Nekara Tipe Heger II

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Mempunyai bidang pukul yang lebih besar daripada tubuh nekara. Sehingga menjorong keluar, bagian bahu tidak berbentuk cembung tetapi melurus ke pinggangnya.

Jenis          : Benda-benda perunggu

7). Nekara Tipe Heger III

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Bagian bahunya melurus ke bawah, dan dibagian pinggang agak melengkung kedalam sehingga tampak bentuk pinggang.

Jenis          : Benda-benda perunggu

8).  Nekara Tipe Heger IV

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Mempunyai bidang pukul yang menutup badan nekara, bahu berbentuk cembung, bagian tengahnya hanya sedikit membentuk pinggang kemudian lurus ke bawah.

Jenis          : Benda-benda perunggu

9). Kapak Perunggu Tipe dasar (tipe I)

Bahan        : Perungu

Bentuk      : Lebar dengan penampang lonjong, garis puncak (pangkal) tangkainya cekung. Kadang-kadang lurus dan bagian tajamnya cembung.

Jenis          : Kapak Perunggu

10). Tipe ekor burung seriti (Tipe II)

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Bentuk tangkai dengan ujung yang membelah seperti ekor burung seriti. Ujung tajaman biasanya berbentuk cembung seperti kipas.

Jenis          : Kapak Perunggu

11). Tipe Pahat bertangkai (Tipe III)

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : lebih panjang daripada tajamnya. Bentuk tangkainya ada yang menyempit dan lurus, ada yang pendek dan lebar. Bentuk tajaman cembung/lurus.

Jenis          : Kapak Perunggu

12). Tipe Tembilang (Tipe IV)

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Seperti tembilang, tangkainya pendek, mata kapak gepeng. Bagian bahu lurus kea rah sisi-sisinya. Mata kapak berbentuk Trape Sorda atau setengah limgkaran.

Jenis          : Kapak Perunggu

13). Tipe Bulan sabit (Tipe V)

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Mata kampak berbentuk bulan sabit. Bagian tengah lebar yang kemudian menyempit kedua belah samping. Sudut-sudut tajamnya membulat. Mata kapaknya sangat pipih.

Jenis          : Kapak Perunggu

14). Tipe jantung (Tipe VI)

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Mata kapak berbentuk seperti jantung. Tangkainya panjang dengan pangkal yang cekung. Bagian bahu melengkung pada ujungnya.

Jenis          : Kapak Perunggu

15). Tipe candrasa (Tipe VII)

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : tangkainya pendek dan melebar pada pangkalnya. Mata kapak tipis dengan kedua ujungnya melebar melengkung kea rah dalam. Pebebaran yang tidak sama membentuk bidang mata yang asimetris.

Jenis          : Kapak Perunggu

16). Tipe Roti (Tipe VIII)

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Tangkai kapaknya melengkung serta panjang. Dituang menjadi satu dengan kapak.

Jenis          : Kapak Perunggu

17). Bejana Perunggu

Bahan        : lempengan Perunggu

Bentuk      : Berbentuk bulat panjang seperti kepis atau keranjang.

Jenis          : Kebudayaan Logam (Perunggu)

18).  Patung

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Bermacam-macam bentuk seperti binatang atau orang.

Jenis          : Kebudayaan Logam (Perunggu)

19). Gelang, cincin

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Dihias dengan pola Geometrik atau pola bintang. Pola hias pada gelang-gelang berupa poal-pola tumpal, garis tangga, duri ikan, spiral.

Jenis          : Perhiasan Logam

20). Ujung Tombak

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Berbentuk daun dengan tajaman pada kedua sisi.

Jenis          : Kebudayaan Logam (Perunggu)

21). Belati

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Bermata besi cagam, dihias dengan pola lingkaran tangent dan pola tangga.

Jenis          : Kebudayaan Logam (Perunggu)

22). Ikat Pinggang

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Berpoal geometris berupa lingkaran tangent.

Jenis          : Kebudayaan Logam (Perunggu)

23). Bandul atau mata kalung

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Berbentuk manusia stilistis dengan ujung-ujung kedua lengan yang cembung. Disamping bertemu pada ujung-ujung kaki yang melengkung keatas.

Jenis          : Perhiasan

24). Kelintingan kecil

Bahan        : Perunggu

Bentuk      : Berbentuk kerucut dengan celah disisinya dan sebuah alat untuk mencabut jenggot yang sederhana berbentuk huruf U.

B. Kebudayaan Pantai 

                       

  1. Masa Palaeolithikum

      1). Sudip

Bahan        : Alat tulang dan tanduk rusa

Bentuk      : Dibuat sedemikian rupa menjadi semacam alat penusuk (belati) untuk mengorek ubi dan keladi dalam tanah.

Jenis          : Flakes

2). Ujung tombak

Bahan        : Tanduk rusa, ekor ikan pari, ada yang dari batu indah (chalcedon)

Bentuk      : dipasang di ujung tombak dengan gigi-gigi pada sisinya. Digunakan untuk menangkap ikan (seperti Ikan Harpun)

Jenis          : Flakes

3). Serut

Bahan        : Pecahan Batu

Bentuk      : Bulat, lonjong, persegi, tidk teratur, lurus

4). Alat tulang ( sudip, serpih, batu-batu bundar, lancipan)

Bahan        : kerang

Bentuk      : Spiral, berwarna biru, konveks

5). Kapak Penetak Gigantolith

Bahan        : Karang kersikan

Bentuk      : Berukuran besar, tajamnya berliku-liku

  1. Masa Mesolithikum

1). Kjokkenmoddinger

Bahan        : Sampah dapur berupa kulit kerang dan siput

Bentuk      : Berupa rumah-rumah bertonggak dari siput dan kerang yang dipatahkan ujungnya dan dihisap isinya dan kepalanya. Kulit-kulit itu dibuang selama ribuan tahun dan menjadi bukit kerang dengan tinggi mencapai beberapa meter.

Analisis     : Letak Kjokkenmoddinger yang ditemukan disepanjang pantai Sumatra Tiimur Laut diantara langsa di Aceh dan Medan, beberapa puluh kilometer dari laut sekarang. Walau demikian dipastikan merupakan kebudayaan pantai, sebab garis pantai yang berubah-ubah dalam waktu yang lama, menunjukkan bahwa dulunya Kjokkenmoddinger terdapat di tepi pantai. Bahan Kulit kerang dan siput adalah cirri hasil pantai.

2). Sudip, belati, mata panah

Bahan        : Tulang Binatang yang dibuat alat dan perhiasan

Bentuk      : Alat-alat penusuk untuk berburu

Jenis          : Bone Culture (Tradisi alat-alat tulang)-Kebudayaan Sampung

3). Ujung Panah

Bahan        : Batu indah seperti Jaspis dan Chalcedon.

Bentuk      : Semuanya bertangkai pada pangkalnya, namun memiliki keistimewaan yaitu sisi-sisinya bergerigi (seperti gergaji) yang merupakan corak khusus ujung panah Toala.

Jenis          : Flake Culture (tradisi serpih bilah)-Kebudayaan Toala.

 

  1. Masa Neolithikum

1). Periuk Belanga

Bahan        : Tanah

Bentuk      : Tidak diketahui dengan pasti, hanya ditemukan pecahan-pecahan.Namun disimpulkan belum menggunakan Pelarikan (roda landasan)

Jenis          : Tembik

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.